Ini tulisanku setahun yang lalu, kupindah dari blog yang lama :)

Maret 2007
Rejeki itu di tangan Allah, dan kita wajib berusaha menjemputnya. Rejeki itu tidak akan lari kemana, jadi asalkan kita sudah berusaha Insya Allah Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha kita. Namanya rejeki, sedikit atau banyak harus kita syukuri.
Banyak sekali pengalaman yang kudapat habis lulus kuliah dulu. Waktu masih baru lulus dulu idealis, penginnya sih kerja mapan sesuai dengan bidangku. Jadi nyarinya lowongan kerja di perusahaan2 atau kantor2, kebanyakan yang diincer jadi staff IT, programer dan sejenisnya. Besarnya gaji masih menjadi pertimbangan meski bukan pertimbangan utama. Penginnya waktu itu kerja di jabotabek, soalnya katanya disana banyak lowongan IT. Maka mulailah nglamar-nglamar. Akhirnya belum wisuda udah ada panggilan wawancara kerja ke Tangerang. Singkat cerita aku dateng kesana ikut tes dan sebulan kemudian dapet kabar diterima tapi aku mutuskan ga takambil. Loh koq? Apa ga eman udah-udah jauh kesana? Ga eman Insya Allah. Soalnya, waktu dateng kesana, aku kecewa dan khawatir ternyata disana untuk sholat aja susah ga ada tempat, disana juga sedikit banget ceweknya dan menurutku ga save buat muslimah. Meskipun pimpinannya baek banget tapi dengan kondisi seperti itu ga dech. Dan ketika aku kesana aku mengambil pelajaran dari temen yang kerja di jabotabek, kalo kerja disana tuh biasanya berangkat puagi banget dan seringnya pulangnya malem2 karena tempatnya rata2 jauh, lalu lintas macet, dsb. Ngeri dech  Dan yang jadi pertimbangan juga, banyak amanah disini yang harus ditinggalkan ketika harus kesana. Masak hanya gara2 kerjaan atau cari duit harus meninggalkan amanah. Waktu itu aku berazam aku mau meninggalkan kota ini hanya karena dua alasan, karena tempat itu lebih membutuhkan kontribusiku atau karena alasan menikah yang dengannya aku bisa lebih berkontribusi untuk umat.

Habis itu kapok dech, kalo ada lowongan di jabotabek ga dilirik blas he..he.. Entah berapa lamaran yang sudah kukirim dan entah berapa kali juga aku ikut tes kerja. Tapi kalo yang namanya belum rejeki ya belum dapet. Waktu itu cari-cari kerjaan masih itung-itung masalah gaji, sesuai ga sama bidangku, cukup ga sama kebutuhanku. Dan Allah pun memberikan pelajaran buatku dengan memberiku kesempatan-kesempatan kerja dengan penghasilan yang sedikit. Akhirnya aku sadar bahwa tidak semua pekerjaan itu diitung-itung dengan uang. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari sebuah pekerjaan, tidak hanya sekedar uang. Dalam sebuah kajian, ada seorang ustadz yang memberi taujih, gaji itu beda sama rejeki. Gaji itu penghasilan yang kita dapatkan setiap bulan dari pekerjaan kita. Sedangkan rejeki itu semua yang Allah berikan kepada kita, tidak hanya gaji tapi juga bisa berupa yang lain. Misalnya, tiba-tiba kita ditawari proyek sama rekan kerja kita, kita dapet hadiah dari atasan kita karena kinerja kita, dsb. Bisa jadi sebuah pekerjaan yang gajinya sedikit akan menjadi pintu rizki bagi rizki-rizki kita yang lain. Kata-kata terakhir itu dari sahabatku tercinta :)
Ternyata bener lho… Setelah tawaran-tawaran berupa pekerjaan freelance aku terima yang ternyata yang kudapat jauh lebih besar dari yang kuduga. Belum lagi setelah itu berdatangan tawaran-tawaran proyek kecil-kecilan. Meski kecil kalo ada banyak akhirnya jadi banyak juga kan :)
Alhamdulillah Allah telah mentarbiyahku dengan pengalaman-pengalaman itu. Meski diantara pengalaman itu ada yang pahit, meskipun belum dapet pekerjaan tetap, Alhamdulillah banyak nikmat dan hikmah yang kudapatkan. Dari situ aku mulai belajar tentang arti sebuah rejeki. Sejak saat itu, aku tata niatku dalam bekerja. Eman rasanya kalo bekerja hanya sekedar mencari uang. Karena aku hidup di dunia ini bukan untuk mencari kesenangan, aku kuliah bukan untuk mencari kekayaan. Manusia diciptakan Allah di dunia ini untuk beribada pada-Nya. Jadi, bagaimana supaya semua aktifitasku selama di dunia ini bernilai ibadah. Begitu pula dengan bekerja. Aku tidak ingin bekerja semata-mata untuk cari uang. Aku ingin pekerjaanku bernilai ibadah. Bagaimana caranya?
1. harus sesui dengan fitrahku sebagai wanita. 2. aman dari fitnah 3. Menutup aurat dan menjaga adab-adab pergaulan 4. Ada peluang untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Dan yang terpenting adalah mendapatkan ijin dari walinya. Kalau aku belum nikah ya harus dapat ijin dari ortuku.
Saat itu pengin berwirausaha, maklum dari latar belakang keluarga wiraswasta, ga pengin jadi pns :D . Munculah ide-ide pengin membuka usaha-usaha yang masih terkait dengan IT. Cita-citaku sih pengin mendirikan IT Center, sebagai pusat pendidikan, usaha dan pembinaan di bidang IT. Tapi karena waktu itu ga banyak dukungan, ga ada temen dan ga dapet modal akhirnya idenya disimpan dulu he..he..
Selanjutnya kepikiran jadi dosen. Pikirku dosen itu waktunya fleksibel dan sesuai dengan kriteria di atas. Dengan jadi dosen kita bisa memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain yang itu termasuk amal jariyah yang takputus pahalanya insya Allah. Dulu sich ga pernah kebayang sama sekali jadi dosen, bahkan ketika mau lulus ketika ada temen yang nanyain, mau ga kamu jadi dosen? ”Ga mau ah, ga enak” itu jawabku. Apalagi aku orangya ga pede lagi. Belum lagi materi kuliah infor susah2, belajar sendiri aja udah susah apalagi ngajarin orang. Tapi dengan dorongan semangat pengin bekerja sekaligus beramal jariyah akhirnya nekad aja, mulai dech buka2 buku lagi, belajar lagi he..he..
Alhamdulillah aku ditawari sebagai dosen tidak tetap di sebuah PTS. Meskipun tidak tetap gpp tetap diterima toh masih bisa kerja sambilan yang lain proyek kecil-kecilan. Yang penting kan bukan penghasilan tetap tapi tetap menghasilkan, ya ga?  Sejak saat itu jadilah bu dosen, ga pede asline dengan sebutan itu, mungkin terlalu muda kali ye..:) Sejak saat itu ’perjuangan’ dimulai, mulai ’menggarap ladang’
Karena statusnya tidak tetap jadinya bisa nyambi dimana-mana. Alhamdulillah setelah satu semester dapet tawaran ngajar di tempat yang lain. Jadinya dah ga mroyek lagi, fokus jadi dosen. Ternyata tawaran jadi dosen ga cuma satu sampai nolak-nolak karena sudah kebanyakan jam. Kalau dulu nglamar-nglamar kerja trus berubah jadi dilamar ama kerjaan. Tiba-tiba ada sebuah PTS yang nawari jadi dosen tetap, padahal belum pernah nglamar kesana, ternyata ada yang merekomendasikan, alhamdulillah, rejeki tidak terduga.
Memang banyak orang bilang, dosen=kerjaannya sedoz, gajinya saksen. Memang membutuhkan banyak kesabaran terutama dalam menghadapi mahasiswanya. Tetapi sungguh banyak nikmat dan hikmah yang terkadung di balik pekerjaan itu.